Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Interpretasi Lagu Tukar Jiwa (Tulus)

Tukar Jiwa Coba satu hari saja  kau jadi diriku kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu mengagumi menyayangimu dari sudut pandangku By : Tulus Bilakah sebuah rasa yang telah mengendap lama di dalam dada tak pernah sampai kepada orang yang dituju. Hanya disimpan rapat tak perlu siapapun tahu. Tapi adakalanya ingin sekali orang itu merasakan apa yang hati ini rasa. Betapa sulit untuk menjelaskan ini karena orang itu mungkin tak kan pernah mengerti bila diucapkan dengan kata. Cobalah bila kita bertukar jiwa untuk mengerti bagaimana rasa yang dipunya terlalu dalam untuk hanya sekadar disebut sebuah rasa. Mari kutunjukkan jika benar ini akan menjadi jalan bagimu tahu segala sesuatu yang terjadi pada diriku. Bagaimana ketika kakiku gemetaran setiap di dekatmu berada. Bagaimana ketika suara degup jantungku terdengar nyaring sampai kutakut semua orang mendengarnya. Bagaimana ketika pikiranku tak pernah jernih bila kau sudah bicara. Bagaimana ketika sudut bibi...

Menjadi Orang Baik

Saya selalu merasa tidak ada sulitnya menjadi orang baik. Apa yang selama ini saya lakukan pun adalah dengan niat kebaikan untuk semuanya. Tapi ada saja yang menganggap bahwa apa yang telah saya perbuat tidak berkenan di hati orang lain sehingga menjadi orang baik itu tidak lagi melekat pada diri saya. Ada kalanya muka sinis yang saya pasang dianggap tidak baik oleh orang lain. Ada kalanya kata kata sedikit menyentak yang dikecap lidah dianggap tidak baik oleh orang lain. Ada kalanya sikap dingin yang acuh dianggap tidak baik oleh orang lain. Serba salah. Sesungguhnya segala kekurangajaran itu adalah bagian dari kekurangan saya yang sesekali muncul, bukan atas dasar kebiasaan yang menjadi tabiat. Sungguh saya orang baik kok, setidaknya di mata teman teman dekat itu yang mereka anggap tentang saya. Bahkan kepada orang yang jahat pada saya pun masih saya ladeni dengan sikap lapang dada.

Adaptasi itu Perlu Waktu

Ada beberapa orang yang kesulitan untuk menerima perubahan dalam hidupnya. Keluar dari kebiasaan yang sudah melekat lama adalah sesuatu yang harus dipelajari kembali. Perlu juga menguatkan hati agar semua dapat dijalani dengan sebaik-baiknya. Kadang perubahan itu malah membuat kita menjadi orang baru juga. Setidaknya rasa bosan yang dulu datang, kini tergantikan dengan rasa lain yang menyegarkan, meski masih kikuk untuk menghadapinya. Tapi semua akan terbiasa, cepat atau lambat, semua perlu waktu.

Berangkat Kerja

Tidak seperti banyak orang yang berangkat kerja ketika matahari belum keluar. Aku lumayan beruntung bisa berangkat kerja lebih siang dari mereka. Ketika aku masih sempat mencuci baju dan piring, menyapu lantai, membuat sarapan, dan menonton televisi. Rasa-rasanya sudah cukup waktu sekolah saja merasakan berangkat subuh hari. Setiap pagi akan terasa jauh lebih cepat dibanding waktu yang lain. Itulah mungkin perlu keahlian multitasking di sini. Atau memang perempuan pandai  melakukannya. Perjalanan ke kantor menghabiskan waktu satu jam lamanya. Terbayang apa yang setiap hari kulalui dan tetap sama. Jalan yang panjang dan berliku, kadang aspal kadang berbatu. Aku sudah hafal betul dimana jalan yang berlubang dan dimana jalan yang ada polisi tidurnya. Semua kunikmati sembari terkadang memikirkan hal-hal yang berada di angan-angan. Motor matic yang kukendarai cukup bersahabat sejauh ini. Meski jarak tempuh yang panjang, tak pernah lelah rasanya berjuang bersama. Rute perjalanan y...

Melihat Aku yang Baru

Tidak kusangka bahwa hal yang kukhawatirkan akan terjadi secepat ini. Tiba-tiba terjadi dan aku memulainya dengan gamang. Sungguh, antara percaya atau tidak, padahal aku sedang mempersiapkan semuanya, tetapi semua terjadi lebih cepat dan mengejutkan. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Mungkin apa yang kualami sekarang adalah hal paling benar yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Tidak, aku tidak marah, hanya sedikit kecewa.  Aku kecewa pada mereka, orang-orang yang paling kukenal luar dalam. Tapi sungguh aku tak bisa berbuat apa-apa. Mereka mungkin menganggap bahwa aku sudah siap menghadapinya, toh aku sudah dewasa. Tapi terkadang mungkin aku masih ingin diperlakukan layaknya anak bungsu yang haus perhatian, yaa hanya sesekali mungkin. Tapi bisa saja aku sebenarnya kecewa pada diriku sendiri. Padaku yang belum berbuat banyak hal. Aku sendirilah yang membuatnya terasa menyedihkan. Betul tidak sih? Aku ingin bangkit lebih berani menghadapi dunia ini, tapi untuk kesekian ...

Pulang

Ke rumah Bertemu Ibu Tertawa bersamanya Berada di peluknya Mengunyah semua masakannya Nasihat-nasihatnya Masih ada Ibu Itulah pulang Dulu, kusenang bila setelah pergi berhari-hari dan menemukan waktu untuk pulang. Ada gemuruh rasa haru di dada karena akan bertemu dengan orang yang paling dicinta. Rindu yang ditahan-tahan kemarin akan meledak seketika ketika sudah mencium tangan keriputnya. Melihatnya saja dalam keadaan sehat sudah membuat hidupku puas lega. Tapi itu dulu, tidak lagi sekarang dan selamanya. Lalu, apa yang terasa sekarang ketika sudah tidak ada dirinya? Saya masih ingin pulang, pasti. Tapi tidak ada lagi haru biru rindu yang meledak-ledak. Semua hilang mendadak. Berganti dengan rasa kosong yang fatal. Saya baru tahu rasanya kosong sesungguhnya ketika pulang tidak lagi istimewa. Rumah hanyalah bangunan mati yang tidak bernyawa seperti penghuninya.

Jangan Pernah Tanya Lagi

Setiap kalimat yang mulai meluncur dari mulutmu sungguh ingin kuhindari. Dulu mungkin tidak begini, tapi sekarang mendadak menjadi palu yang siap menghantam kepala. Dingin di luar setelah hujan panjang semakin menyudutkanku akan pertanyaanmu. Aku benci sekarang dan akan menjadi selamanya. Tanyamu mengorek ke dalam semua luka yang kupunya. Kau sesungguhnya tahu bahwa aku belum benar benar sembuh. Tapi entah kemana rasiomu untuk memahami hal se-humanis ini. Mungkin karena kau selalu melihatku tegar dan bersahaja. Tapi pernahkah sekalipun kau menengok ke kamarku untuk sekadar memastikan bahwa aku baik baik saja. Tidakkah kau berpikir mata sayu tiap pagi yang kutunjukkan adalah hasil gerimisku setiap malam yang belum pernah berhenti sampai dengan malam ini. Jadi, jangan pernah tanya lagi.

Takut

Tiba tiba saja rasa takut itu menjalar terus ke setiap denyut nadi, menghentak kasar, membuat gigil tiada henti. Meski usiaku mau ke angka 30 tapi takut kali ini tidak pernah kurasakan sebelumnya. Takut yang tidak mengada-ada walaupun sudah berkali kali kucoba untuk berani. Takut yang menyelimuti alam bawah sadar hingga kadang aku lupa bahwa hidup masih berjalan. Takut yang membawaku pada lintas masa yang sungguh tak pernah terbayang akan bagaimana nantinya. Sungguh ini adalah takut yang berbahaya. Hingga bisa saja aku tak lagi percaya bahwa aku cukup berharga untuk benar benar merasa takut. Sering kupaksa memori bahagia diputar di kepala. Namun tak pernah berhasil mengusir si takut sepenuhnya. Bahkan tidak jarang pula takut berkawan dengan pilu. Membuatku semakin sengsara dan lantas merutuki diri betapa semua menjadi semakin sulit teratasi. Mana mungkin aku ingin berkawan juga dengan pilu. Toh si takut sudah membuat hari-hariku basah oleh kelabu. Sungguh kuhanya ingin mencari dimana ...