Ke rumah Bertemu Ibu Tertawa bersamanya Berada di peluknya Mengunyah semua masakannya Nasihat-nasihatnya Masih ada Ibu Itulah pulang Dulu, kusenang bila setelah pergi berhari-hari dan menemukan waktu untuk pulang. Ada gemuruh rasa haru di dada karena akan bertemu dengan orang yang paling dicinta. Rindu yang ditahan-tahan kemarin akan meledak seketika ketika sudah mencium tangan keriputnya. Melihatnya saja dalam keadaan sehat sudah membuat hidupku puas lega. Tapi itu dulu, tidak lagi sekarang dan selamanya. Lalu, apa yang terasa sekarang ketika sudah tidak ada dirinya? Saya masih ingin pulang, pasti. Tapi tidak ada lagi haru biru rindu yang meledak-ledak. Semua hilang mendadak. Berganti dengan rasa kosong yang fatal. Saya baru tahu rasanya kosong sesungguhnya ketika pulang tidak lagi istimewa. Rumah hanyalah bangunan mati yang tidak bernyawa seperti penghuninya.
Aku hanya hidup untuk hari ini. Bukan untuk kemarin atau masa yang akan datang.