Tiba tiba saja rasa takut itu menjalar terus ke setiap denyut nadi, menghentak kasar, membuat gigil tiada henti. Meski usiaku mau ke angka 30 tapi takut kali ini tidak pernah kurasakan sebelumnya. Takut yang tidak mengada-ada walaupun sudah berkali kali kucoba untuk berani. Takut yang menyelimuti alam bawah sadar hingga kadang aku lupa bahwa hidup masih berjalan. Takut yang membawaku pada lintas masa yang sungguh tak pernah terbayang akan bagaimana nantinya. Sungguh ini adalah takut yang berbahaya. Hingga bisa saja aku tak lagi percaya bahwa aku cukup berharga untuk benar benar merasa takut.
Sering kupaksa memori bahagia diputar di kepala. Namun tak pernah berhasil mengusir si takut sepenuhnya. Bahkan tidak jarang pula takut berkawan dengan pilu. Membuatku semakin sengsara dan lantas merutuki diri betapa semua menjadi semakin sulit teratasi. Mana mungkin aku ingin berkawan juga dengan pilu. Toh si takut sudah membuat hari-hariku basah oleh kelabu. Sungguh kuhanya ingin mencari dimana keberanianku yang pernah ada. Aku hanya diperbabu oleh takut yang tak kasat mata. Kuyakin beraniku masih ada di dalam diri ini. Meski tinggal setitik yang nyaris tak kelihatan. Setidaknya aku akan coba lagi yang kali ini untuk mengobarkan bara berani yang sempat mati. Duhai Tuhan, aku butuh bantuanMu.
Comments
Post a Comment