Skip to main content

Susah Senang Mencari Kerja

Mengapa judulnya saya tulis susah dulu baru senang? Waktu saya masih SMA, seorang guru selalu mendoktrin murid-muridnya bila kita ingin berkata mulailah dengan kata yang susah atau sulit baru akhiri dengan senang-mudah, karena itu seperti sugesti bahwa setelah kita mengalami kesusahan pasti akan ada kesenangan yang didapat. Dan susah-senang ini terjadi juga ketika kita melamar pekerjaan. Saya yakin 100% bahwa tidak semua orang mengalami kemudahan dalam mencari kerja. Saya sendiri termasuk yang menemui kesusahan hingga harus menunggu berbulan-bulan baru bisa diterima kerja. Begini ceritanya.
Menjadi seorang sarjana bukan jaminan kita mudah mendapatkan pekerjaan. Nyatanya banyak sekali saingan sesama sarjana yang juga berjibaku untuk mendapat kerja. Istilahnya disebut fresh graduate. Masih fresh from the oven, idealis, dan inginnya yang muluk-muluk. Namun dunia kerja itu kejam, pencari kerja dari perusahaan bonafit juga pasti mendambakan CV berpengalaman sekian tahun dan mahir beberapa skill, salah satunya Bahasa Inggris. Bukan berarti semua fresh graduate berhenti berharap, jangan malah, karena siapa tahu keberuntungan sedang berpihak dan memang jodohnya ada di sana. Seminggu pertama setelah menyandang gelar sarjana, saya sibukkan untuk menebar CV kemana-mana, baik itu melalui lowongan kerja online, kirim CV langsung ke perusahaan, maupun melalui event jobfair. Rasanya sudah ngga kehitung berapa jobfair yang sudah didatangi. Namun yaa itulah perjuangan, tidak kenal lelah. CV telah disebar namun panggilan belum juga muncul, kalau begitu sebar lagi ke perusahaan lain. Begitu aja terus.

Saya ingat sebulan kemudian panggilan itu datang, dari sebuah bank. Undangan tes datang melalui email, seingat saya jabatannya sebagai Management Trainee. Saya pun merasa ada angin segar, penggilan pertama dan dari salah satu bank terkemuka. Ketika waktunya tiba, saya usahakan tidak telat, berpakaian rapi, dan tentu bersemangat. Tes pun dimulai, psikotest, lamaa sekali karena ada beberapa tes yang harus dikerjakan. Hal ini tidak saya antisipasi, saya tidak belajar terlebih dahulu. Padahal banyak sekali soal-soal psikotes bertebaran di internet. Lesson learn! Kalian setidaknya harus latihan kalau mau tes psikotest, karena walau bagaimanapun tes ini sangat menentukan diterima atau tidaknya kita, bukan hanya sekadar formalitas. Yaa sudah bisa ditebak, saya tidak dipanggil untuk lanjut ke tahap berikutnya.

Panggilan berikutnya lebih banyak dari bank, namun yang ditawarkan adalah marketing. Bukannya saya tidak mau, tapi karena pekerjaan itu tidak cocok dengan saya yang introvert ini. Pernah suatu kali diinterview oleh manager bank ditanya teman facebook kamu ada berapa, seribu ada? Kalau ada itu bisa jadi bahan kamu untuk menawarkan produk. Waduh! mikir saat itu teman facebook yang cuma 400an dan itupun bukan teman akrab semuanya. Pokoknya yaa marketing ini bukan bidang saya banget. 

Suatu hari datang panggilan dari suatu penerbit, dipanggil untuk jabatan asisten editor. Meskipun saya jurusan hukum tapi passion saya memang dunia literasi. Saya sangat excited untuk panggilan ini, sebelum hari H, saya usahakan baca segala macam bahan bacaan yang berhubungan dengan dunia editor. Saya merasa mantap ketika itu dan sangat siap untuk hari H. Ternyata yang mendapat panggilan hanya beberapa orang saja, mungkin 10 orang. Kami ditempatkan di suatu ruang meeting lalu diminta untuk mengerjakan soal, waktunya sekitar 5-6 jam, saya lupa. Tak disangka, soal yang muncul adalah bahasa inggris XD, kami diminta untuk menterjemahkan suatu bacaan dengan bahasa yang baik dan benar. Ruangan yang dingin semakin membuat kisut nyali saya karena ketidakmampuan saya dalam menterjemah. Meski begitu, rasa-rasanya saya kerahkan semua kemampuan sampai tak menyangka saya habiskan 3 lembar kertas Hvs untuk menulis. Namun, panggilan dari sana tidak berlanjut lagi.

Pernah juga saya dipanggil perusahaan bodong, ketika didatangi alamatnya tidak jelas, padahal udah susah payah datang jauh-jauh. Pernah juga datang ke perusahaan yang lokasinya di pojokan, terpencil, dan harus nanya warga sekitar dulu baru tahu letaknya. Pernah juga udah sampai kepada tahap interview dengan owner, setelah melewati psikotest dan interview hrd, namun tidak juga keterima. Begitu banyak susahnya, karena lokasi yang jauh harus turun naik angkot, kepanasan, kehujanan, sendirian pula. Sampai suatu hari saya pernah merasa lelah, 4 bulan perjuangan mencari kerja tapi belum berbuah manis. Saya tetiba merasa pasrah. Stop berusaha. Tidak lagi melamar kerja. Bener-bener tidak ingin melakukan apapun. Namun hati saya jauh lebih tenang, meski tetap khawatir karena belum kerja. Tapi entah kenapa, saya ingin serahkan semuanya kepada Allah, saya tidak lepas rasanya berdoa, selalu memohon kepadaNya tak pernah putus. Saya yakin Ibu saya pun selalu mendoakan tanpa henti. 

Hingga pada bulan ke-6, panggilan yang ditunggu-tunggu datang. Saya masih ingat dengan jelas saat itu, saya ditelepon oleh seorang HRD suatu perusahaan pukul 11.00, dan ditunggu untuk interview hari itu juga pukul 14.00. Awalnya saya ragu, ada sedikit rasa malas karena mikirnya palingan ini akan seperti perusahaan yang lainnya. Tapi segala keraguan itu saya tepis dengan segera karena mikir juga bahwa sudah sebulan ini sama sekali tidak ada panggilan kerja yang datang. Saya segera bersiap untuk berangkat karena lokasi kantor yang lumayan jauh, sekitar 1 jam dari rumah. Tapi untungnya lokasinya mudah dijangkau, aksesnya dekat dengan stasiun kereta, favorit saya. Sesampainya di kantor tersebut, saya disambut dengan baik oleh 2 orang HRD yang kemudian menginterview saya. Luar biasanya, saat itu rasanya semua berjalan dengan lancar. Saya mampu menjawab semua pertanyaan dengan tenang dan tanpa beban. Saya pun diterima. Legaaaa rasanya. Ketika mendengar kalimat "kamu diterima bekerja di sini" bagi pencari kerja seperti saya rasanya menjadi suatu kalimat terindah yang pernah didengar (lebay sih ini). 

Ya, ketika kita sudah berjodoh dengan sesuatu maka akan lancar jalannya dan buktinya itu hanya memerlukan sekali interview saja tanpa melewati tes-tes lainnya. Saya bersyukur banget akhirnya pulang dapat membawa kabar gembira buat Ibu tercinta. Saya juga ingat saat itu Ibu sedang ngiris bawang di dapur, dan saya pun mengabarkan berita gembira kepadanya. Saya lihat pancaran bahagia di wajahnya, karena penantian yang panjang ini dan usaha yang tanpa lelah ini telah terbayar. Rasanya sekarang ingin mengulang masa itu kembali. hehehehe. Beruntungnya perusahaan saya bekerja ini sedang berkembang dan terus berkembang, saya banyak belajar dari sana, banyaaaakkk sekali, mendapat rekan kerja yang menyenangkan dan baik banget. Lebih senangnya lagi setiap tahun outing ke tempat yang asik, bahkan ke luar negeri. Meski sekarang sudah bukan di sana lagi, tapi pengalaman kerja pertama kali tentu memberikan kesan yang berarti. 

Begitulah sekelumit cerita tentang pencarian kerja. Jalan yang saya tempuh mungkin tidak semudah orang lain, atau bisa jadi tidak sesulit orang lain. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Yang saya rasakan saat itu adalah benar-benar pasrah, saya bisa mengerti arti pasrah yang sesungguhnya. Berserah sama Allah, kita sudah usaha, tinggal Allah yang putuskan. Saya tidak marah, tidak kesal, hati ikhlas, pikiran lebih jernih, dan lebih banyak bersyukur. Dan Allah menjawabnya dengan jawaban yang indah.

Comments

Popular posts from this blog

Interpretasi Lagu Tukar Jiwa (Tulus)

Tukar Jiwa Coba satu hari saja  kau jadi diriku kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu mengagumi menyayangimu dari sudut pandangku By : Tulus Bilakah sebuah rasa yang telah mengendap lama di dalam dada tak pernah sampai kepada orang yang dituju. Hanya disimpan rapat tak perlu siapapun tahu. Tapi adakalanya ingin sekali orang itu merasakan apa yang hati ini rasa. Betapa sulit untuk menjelaskan ini karena orang itu mungkin tak kan pernah mengerti bila diucapkan dengan kata. Cobalah bila kita bertukar jiwa untuk mengerti bagaimana rasa yang dipunya terlalu dalam untuk hanya sekadar disebut sebuah rasa. Mari kutunjukkan jika benar ini akan menjadi jalan bagimu tahu segala sesuatu yang terjadi pada diriku. Bagaimana ketika kakiku gemetaran setiap di dekatmu berada. Bagaimana ketika suara degup jantungku terdengar nyaring sampai kutakut semua orang mendengarnya. Bagaimana ketika pikiranku tak pernah jernih bila kau sudah bicara. Bagaimana ketika sudut bibi...

Sehat itu Penting

Dua bulan ini saya merasa tidak enak badan. Tangan kanan mendadak sakit luar biasa, saya kira dikarenakan pegal akibat naik motor setiap hari, seperti ada urat yang terjepit. Ternyata bagian pundak juga ikut-ikutan mengeluh. Belum lagi rasa lelah yang sangat setiap kali beraktifitas berat. Beberapa kali menduga ada keluhan di bagian perut kanan, apa mungkin ini gangguan ginjal atau hati? Saya menjadi khawatir, apalagi pernah punya pengalaman buruk dengan penyakit hati.  Alhasil minggu lalu saya lakukan medical check up untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi pada tubuh saya. Dari mulai cek ginjal, hati, asam urat, hepatitis, gula darah, dan kolestrol. Setelah hasilnya keluar ternyata oh ternyata kolestrol saya tinggi sekali di angka 268. Bapak saya yang punya kolestrol saja ngga pernah setinggi itu ;). Beliau bahkan sudah menyerang jantung. Duhh, saya semakin dag dig dug, apalagi belakangan ini jantung saya pun terasa nyeri. Setelah tanya google, ternyata memang benar kalau...

Melihat Aku yang Baru

Tidak kusangka bahwa hal yang kukhawatirkan akan terjadi secepat ini. Tiba-tiba terjadi dan aku memulainya dengan gamang. Sungguh, antara percaya atau tidak, padahal aku sedang mempersiapkan semuanya, tetapi semua terjadi lebih cepat dan mengejutkan. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Mungkin apa yang kualami sekarang adalah hal paling benar yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Tidak, aku tidak marah, hanya sedikit kecewa.  Aku kecewa pada mereka, orang-orang yang paling kukenal luar dalam. Tapi sungguh aku tak bisa berbuat apa-apa. Mereka mungkin menganggap bahwa aku sudah siap menghadapinya, toh aku sudah dewasa. Tapi terkadang mungkin aku masih ingin diperlakukan layaknya anak bungsu yang haus perhatian, yaa hanya sesekali mungkin. Tapi bisa saja aku sebenarnya kecewa pada diriku sendiri. Padaku yang belum berbuat banyak hal. Aku sendirilah yang membuatnya terasa menyedihkan. Betul tidak sih? Aku ingin bangkit lebih berani menghadapi dunia ini, tapi untuk kesekian ...