Pagi hari, di kereta yang biasa ditumpangi. Akan berangkat saat waktu bergerak ke angka setengah delapan. Penuh tidak penuh, bukan mirip angkutan yang kerap menunggu untuk mengejar setoran. Beruntung aku bisa membayar hanya dengan seribu lebih lima ratus hingga sampai tujuan. Meskipun harus berdesakan dengan binatang-binatang. Ini keretaku yang menjadi idaman. Masih seperti dahulu saat aku pernah menawan.
Aku hanya hidup untuk hari ini. Bukan untuk kemarin atau masa yang akan datang.
Comments
Post a Comment